Author : Kim Rae Na
Tittle : The Distant Memories of You
Genre : Drama, Romance, Sad, Friendship,
Fiction
Rating : General
Language : Indonesian, Korean, English
Setting : Los Angeles (Amerika), Seoul (Korea
Selatan).
Plot : Present, Flash Back and Flash Forward
POV : Author’s POV (3rd
People)
Jane’s POV
(1st People)
Elliot’s POV (2nd People)
CAST :
1. Jane Park as Jane Wilson (Main
Cast)
2. Kyuhyun Cho as Elliot Johnson/El
(Main Cast)
3. Sooyoung Choi as Alice Wright
(Support Cast)
4. Tiffany Hwang as Stephanie Brewster/Fany
(Support Cast)
5. Victoria Song as Victoria
Jones (Support Cast)
6. Nickhun Horvejkul as Nicholas Black/Nick
(Support Cast)
7. Siwon Choi as Andrew Feroz
(Support Cast)
8. Eunhyuk Lee as Ethan Spencer
(Support Cast)
9. Lee Donghae as Damon Smith (Support
Cast)
10.Kim Hyoyeon as Madam Tereshia Kim/Lecturer
(Cameo)
11.Jessica Jung as Madam Jessie/Teacher (Cameo)
12.Park Jungsoo as Johnson Park/Headmaster (Cameo)
NB:
·
Present,
menunjukan waktu saat ini
·
Flash
Back, menunjukan kisah di masa lalu (beberapa tahun ke belakang)
·
Flash
Forward, menunjukan waktu sekarang setelah diselingi Flash Back
·
Tulisan
bercetak miring adalah bahasa asing di luar bahasa Indonesia
·
Tulisan
di dalam kurung adalah arti dari bahasa asing tersebut
“This is pure my own story, i made this by my
mind. I just make that actrises and actors for my characters here. Sorry if
there is a same characters with the fact. And this story based on my
experiences between me and somebody. And i remind you one more time, this is my
own story. So, don’t co-pas this. Thanks for all your time to read this and i
appreciate you all. Dan
jangan hiraukan masalah perbedaan tahun yang terlampau mengada-ada dari
kenyataan sebenarnya, karena pada dasarnya ini hanyalah cerita fiksi yang
diangkat dari sebuah pengalaman. Thanks a
lot.”
Summary
“...
Ketika kau meninggalkanku dengan alasan bahwa kau tidak ingin menyakitiku,
itulah awal dimana aku merasakan semua rasa sakit dan penderitaan yang bahkan
tidak pernah kubayangkan bagaimana rasanya. Dan ketika aku mulai berusaha untuk
melupakanmu, kau kembali datang dengan semua penyesalan yang kau rasa...”
***
1
Present – Saturday, April 20th 2019
Seoul, South Korea
Hari ini adalah hari bahagia untuk dua
orang sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri.
Victoria Song dan Nickhun Horvejkul. Dua orang yang dipertemukan oleh dasar
persahabatan ketika mereka sama-sama duduk dibangku sekolah menengah atas. Dua
tahun bersama dan dilanjutkan dengan duduk di bangku kuliah-pun bersama selama
4 tahun, adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk saling mengenal satu sama
lain dan akhirnya merasakan hal yang sama, membagi kasih dan menjalin hubungan,
hingga akhirnya sampailah mereka pada saat ini. Saat dimana mereka mengakhiri
masa lajang mereka, memberikan seluruh hidup mereka satu sama lain pada orang
yang mereka cintai.
Dan ketika moment itu datang, semua orang bertepuk tangan dan tertawa haru
menyaksikan acara sakral tersebut. Memberikan selamat dengan tulus hingga
akhirnya setelah acara semakin malam semakin sepi, kini hanyalah beberapa orang
sahabat itu duduk berkumpul disebuah meja bundar yang betempat disebuah taman
di depan beranda rumah yang menguhubungkan antara ruang santai dan taman
tersebut.
“Aku masih tidak menyangka kalau
kalian benar-benar akan sampai pada tahap ini.” Ujar seorang gadis
berpenampilan sederhana setelah sebelumnya menyesap vodka yang telah tersedia di meja tersebut. Jane. Wanita keturunan
Korea – Belanda, satu-satunya orang yang memiliki latar belakang yang berbeda
dari yang lainnya. Campuran. Sedangkan yang lain pure keturunan Korea—terkecuali Victoria dan Nickhun, mereka
keturunan Cina dan Thailand.
“Dan kalian benar-benar pintar
menyembunyikan semuanya, padahal kalian ternyata sudah menjalin hubungan ketika
berada di tahun ke-2 universitas.” Timpal seorang perempuan tinggi semampai
yang tepat berada di sebelah Victoria. Namanya Choi Sooyoung.
“Kalian bahkan selalu berbohong ketika
kami bertanya apakah kalian berhubungan atau tidak. Ckck... kalian benar-benar
pasangan yang ahli dalam hal menipu kami.” Timpal Tiffany yang kini tengah
mengunyah buah anggur yang ikut menjadi hidangan pencuci mulut di meja bundar
tersebut.
“Hei, kami hanya tidak ingin membuat
kalian salah paham. Yah, kalian pasti tahu bahwa kita dulu semua saling
bersahabat, dan jika kami tiba-tiba memberitahu kabar bahwa kami telah menjadi
sepasang kekasih, aku tidak yakin kalian akan diam-diam saja.” Jelas Nickhun
membuat semua orang yang berada ditempat tersebut tergelak bersama.
“Eiishhh... sebelum kalian bahkan ada
aku dan Siwon-oppa yang sudah mengalami hal tersebut, arra? (Tahu)” selang Sooyoung.
Sooyoung dan Siwon. Mereka berdua
adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah satu tahun yang lalu, dan
kini Sooyoung tengah mengandung usia 5 bulan. Kedua pasangan tersebut terlihat
sangat bahagia.
“Omong-omong, dimana suamimu
Sooyoung-ah? Kulihat kau hanya datang sendiri sejak awal.” tanya Eunhyuk yang
sedari tadi hanya diam dan tertawa kini mulai mengeluarkan suaranya. Mungkin
karena dia adalah satu-satunya lelaki lajang diantara mereka—saat ini, lelaki
itu jadi tidak terlalu nyaman.
“Oh, aku baru sadar Siwon tidak ada—dan
juga kemana Donghae?” timpal Nickhun.
“Siwon oppa dan Donghae oppa pergi
bersama, mereka bilang akan bertemu seseorang.” Jelas Sooyoung.
“Ne
(ya), betul. Mungkin sebentar lagi mereka akan menyusul.” Tambah Tiffany
yang hanya dibalas anggukan mengerti oleh semuanya.
“Ekhm... omong-omong, kau belum mau
mengakhiri masa lajangmu Jane?” tanya Fany tiba-tiba, membuat gadis yang
ditanya sontak menoleh cepat ke arahnya.
“Ahaha, hei... apa yang kau bicarakan?
Kau bahkan dan Donghae belum mengakhiri masa lajang, kenapa harus aku.” Jawab
Jane tertawa renyah.
“Yah! Dia benar, Donghae bahkan belum
melamarmu, Fany hahaa...” timpal Eunhyuk meledek Tiffany, dan gadis itu hanya
menggembungkan pipinya sebal.
“Setidaknya aku memiliki Donghae oppa,
kau sendiri? Kenapa masih single sampai
sekarang?” ujar Fany meledek balik Eunhyuk yang disusul gelak tawa dari yang
lainnya. Dan lelaki itu hanya mendengus sebal dengan mulut yang komat-kamit
tidak jelas.
“Hei, Jane. Lihatlah, mungkin Eunhyuk
masih menunggumu.” Cetus Nickhun tiba-tiba membuat Jane tertegun.
Ya... Eunhyuk memang sudah menyukai
Jane sejak lama, bahkan ketika mereka baru pertama kali masuk sekolah menengah.
Dan hal itu sudah diketahui oleh semuanya. Hanya saja Jane selalu menanggapinya
dengan tenang dan senyum. Gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadap
Eunhyuk, mereka semua sudah sama-sama tahu itu. Dan Eunhyuk berusaha untuk
menerimanya, hanya saja lelaki itu belum menemukan yang pas selain dari pada
Jane.
Tidak ubahnya Jane, gadis itu bahkan
tidak pernah benar-benar mempunyai hubungan khusus—sebut saja ‘pacaran’—dengan
lelaki setelah kejadian itu. Kejadian dimana Jane untuk pertama kalinya
merasakan cinta dan sakit secara bersamaan. Entahlah, mungkin gadis itu trauma
atau apapun itu. Yang jelas, sampai sekarang Jane bahkan tidak bisa menghapus ‘dia’
dari pikiran dan kenangannya.
Tiba-tiba keadaan jadi hening, semua
orang tersadar dengan apa yang kini Jane rasakan.
“Jane, sampai kapan kau akan terus
seperti ini?” tanya Sooyoung pelan dan Victoria ikut mengusapkan tangannya pada
bahu Jane, mencoba menenangkan
“Kau harus melupakannya Jane, ‘dia’
bahkan sama sekali tidak pernah memperdulikanmu selama kau jauh darinya. Mungkin
‘dia’ memang benar, kau harus mencari penggantinya. ‘Dia’ mungkin bukan jodohmu.”
Ujar Tiffany yang mendapat anggukan dari yang lainnya.
“Jane, sebagai seorang lelaki... Aku
mengerti mengapa ‘dia’ memilih untuk menyuruhmu melupakannya, dia pasti ingin
kau mendapat yang terbaik, Jane.” Sambung Nickhun.
“Hei, kenapa kalian jadi sedih begini?
Aku baik-baik saja, percayalah—“
“Kau bahkan selalu bersikap seolah kau
tegar dan kuat, padahal jauh di dalam sana kami tahu kau sakit.” Selang Eunhyuk
membuat semuanya terdiam.
Jane memang selalu seperti itu,
menutupi semua rasa sakitnya dengan bersikap seolah dia baik-baik saja.
“Aku minta maaf... aku memang tengah
berusaha melupakannya, mungkin aku memang harus mulai mencoba membuka hatiku
untuk yang lain.” Ujar Jane yang dibalas anggukan mantap dari semuanya.
“Kami selalu mendukungmu, Jane.” Ujar
Sooyoung dan Victoria, dan Tiffany dan Nickhun hanya mengangguk setuju.
“Dan aku tidak pernah berhenti
mendukungmu.” Ujar Eunhyuk dengan diiringi senyum lebar membuat Jane terkikik
kecil dan yang lain hanya bisa tertawa.
“Sepertinya kau harus bekerja keras,
Hyuk-ah.” Ujar Nickhun dan Jane hanya bisa tersenyum tipis.
“Aku memang selalu berusaha, kawan.” Jawab
Eunhyuk mantap.
“Aku menunggu saat itu tiba, Mr. Lee”
jawab Jane dan semuanya tertawa senang.
Mungkin ini yang terbaik untuk Jane. Dia
akan berusaha membuka hatinya untuk Eunhyuk, lelaki yang memang sejak dulu
tidak pernah berhenti memperhatikannya. Apalagi di saat Jane mengalami hal-hal
terberat semenjak dia mengalami hal yang membuatnya benar-benar sakit.
“Sepertinya kopinya perlu tambahan, aku
akan ke pantri sebentar.” Kata Jane beranjak menuju dapur untuk mengambil kopi
lagi.
“Aku harap Jane bisa terlepas dari rasa
sakitnya selama ini, Sooyoung-ssi.” Ujar
Tiffany dan Victoria melanjutkan...
“Dia bahkan tidak pernah sedikitpun
merasakan kasih sayang dari seseorang—kau tahu, maksudku... sosok pria.”
“Benar.” Nickhun menambahkan.
Ditengah-tengah pikiran mereka yang
tengah memikirkan Jane, suara ponsel Sooyoung membuat mereka tersadar dan gadis
jangkung itu segera menjawabnya.
“Ne,
oppa...” >> (Oppa, bisa
diartikan sebagai kakak laki-laki. Kebanyakan perempuan Korea menggunakan kata
tersebut untuk memanggil kakak lelaki, kekasih atau suami mereka).
“........”
“Ne,
kami masih berada disini. Kami berada di taman belakang.”
“........”
“Jane? Dia ada di dapur sedang
mengambil kopi, ada apa?” dahi Sooyoung mulai mengernyit bingung ketika Siwon
menanyakan Jane.
“APA...??”
***
“Bagaimana bisa dia kembali?” bisik
Sooyoung pada Siwon seraya menatap ‘lelaki’ yang kini tengah duduk diantara
Nickhun dan Eunhyuk. Mereka tengah mengobrol asik—lebih tepatnya Nickhun dan ‘lelaki’
itu, bernostalgia membicarakan hal-hal di masa lalu.
“Kau mengundangnya?” tanya Victoria
pada Nickhun.
“Ne,
kupikir tidak ada salahnya memberitahunya tentang pernikahan kita. Aku
tidak benar-benar mengira ‘dia’ akan benar-benar datang.” Jawab Nickhun
setengah berbisik, berusaha agar ‘lelaki itu’ tidak mendengarnya.
“Well... kapan kau berniat kembali ke
Busan?” tanya Eunhyuk. Sedikit terselip nada dingin di balik pertanyaannya
barusan.
“Hei Eunhyuk-ah, ‘dia’ bahkan baru
datang ke Seoul kemarin malam. Kenapa kau bertanya seperti itu?” selang Tiffany
memngingatkan.
“Ah, aniya (tidak). Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja... kukira
dia sangat sibuk dan pasti akan buru-buru kembali ke tempat asalnya.” Jelas
Eunhyuk membuat semuanya tidak bisa lagi menjawab.
“Well...
sebelumnya aku berterimakasih pada Nickhun dan Victoria yang sudah mengundangku
ke acara pesta kalian. Dan... senang sekali bisa bertemu kalian lagi.” Ujar’nya’
tanpa ada yang membalas sedikitpun untuk beberapa saat.
“Well...
aku juga berterimakasih kau sudah mau meluangkan waktumu datang jauh-jauh
kesini meskipun sebenarnya aku tidak menyangka kau akan datang.” Nickhun tertawa
kecil berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja tegang.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana
reaksi Jane ketika dia melihat’nya’ nanti, Vic.” Fany berbisik pada Victoria
dengan suara pelan.
“Oppa,
bagaimana kalau Jane bertemu dengan ‘dia’?” kini giliran Sooyoung yang berbisik
pada Siwon. Merasa cemas jika tiba-tiba Jane keluar dan melihat ‘seseorang’
yang selama ini menjadi alasannya tidak pernah membuka hati untuk siapapun.
“Tenanglah, ‘dia’ memang berniat untuk
bertemu Jane.” Siwon kembali berbisik.
“Mwo?
(Apa?)” Sooyoung terkejut bukan main mendengar alasan ‘dia’ datang kesini bukan
hanya sekedar untuk menghadiri acara pernikahan mereka, melainkan karena memang
‘lelaki itu’ ingin bertemu Jane.
“Apa kau gila?” bisik Eunhyuk yang
tanpa sengaja mendengar pembiacaraan Sooyoung dan Siwon. Pria itu terlihat
geram dan berusaha menghalangi.
“Hyuk, biarkan saja dulu.” Siwon
menahan tangan Eunhyuk yang akan beranjak bangkit berusaha mencegah semua itu. Dan
Eunhyuk kembali duduk dengan sangat terpaksa.
Here
we go...
“Kopinya datang...” terdengar suara
riang Jane dari kejauhan dan dengan santai gadis itu berjalan menuju meja
dimana mereka sedang berkumpul.
Jane seketika menghentikan langkahnya
beberapa meter sebelum benar-benar sampai disana, matanya membulat sempurna dan
nafasnya bahkan tercekat. Seluruh tubuhnya menegang seketika dan gadis itu
tidak bisa memikirkan apapun selain apa yang kini dilihatnya. Dan kopi itu
seketika terlepas dari genggaman tangannya, mengenai kakinya yang pasti terasa
panas. Namun Jane tidak merasakannya, dia terlampau terkejut dan tertegun dengan
apa yang kini dilihatnya.
Bahkan rasa sakit dikakinya tidak ada
apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang kini kembali terasa di hatinya ketika
dia melihat wajah ‘lelaki’ itu. Bagai luka lama yang kembali menganga dan
terasa perih. Hal tersebut membuat semua orang panik namun Jane tetap terpaku
ditempatnya. Perlahan bibirnya bergerak menggumamkan sesuatu. Sebuah nama yang
selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
“Elliot...”
***
And the story just begin...
Flash back - Thursday, January 22th
2009
@Pierto
School, Belanda - At 07.00am
Jam 7 pagi
ini aku kembali memasuki kelasku. Ini adalah tahun kedua aku berada di Senior
High School. Suasananya masih seperti biasa, sepi dan tenang. Aku kembali
membuka novel best seller kesukaanku
dan tidak lupa ku pasang headset di
kedua telingaku. Ini sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi, aku akan selalu
menghabiskan waktu lima belas menitku untuk membaca. Saat ini memang masih
suasana setelah liburan, jadi aku masih bisa santai dan tidak pusing-pusing
untuk membuka buku ketika pelajaran akan di mulai.
Aku kini
berada di semester akhir tingkat dua, setelah sebulan yang lalu aku dan semua
murid di sekolah ini melewati ujian akhir semester. Kelas di mulai pada jam
7.15 pagi ini, tapi sudah hampir jam setengah 8 murid yang lain belum juga
datang. Kuputuskan untuk menyudahi acara membacaku, namun tidak dengan acara
mendengarkan musik. Kulihat papan tulis yang masih ada sedikit sisa-sisa tinta
spidol, mungkin petugas kebersihan lupa akan hal ini. Aku berdiri dan kemudian
berjalan untuk membersihkan papan tulis itu sambil bersenandung kecil, menghilangkan
rasa sepi karena masih berada di dalam kelas sendirian. Sejujurnya aku paling
tidak suka dengan kesendirian—terlalu mencekam.
“Jane...”
Kurasakan ada seseorang yang
memanggilku. Atau hanya halusinasiku saja? Sejenak aku mengabaikan hal itu dan melanjutkan
untuk membersihkan papan tulis lagi.
“Jane..!!!”
Suara itu semakin jelas... setelah itu
kurasakan seseorang melepas headset yang
sedang kugunakan. Oh, shit... ini pasti Si
Cerewet. Kutolehkan kepalaku dan... benar saja, nenek lampir itu sudah
berdiri di hadapanku. Aku hanya memasang wajah tenang dan datar.
“Astaga!!
Pantas saja aku memanggilmu kau tidak dengar. Ck... hentikan kebiasaan
mendengarkan musikmu yang terlalu keras itu, Jane. Kau bahkan pasti tidak akan
mendengar jika kita dikirimkan bom nuklir seperti yang terjadi di kota
Hiroshima dan Nagasaki.”
Aku menarik nafasku pelan sambil
memutar kedua bola mataku.
“Jangan berlebihan, Alice. Aku tidak
akan setuli itu untuk tidak mendengar jika ada yang mengirimkan bom nuklir ke
kota kita.” Ucapku mencibir dan Alice hanya menggelengkan kepalanya malas.
“Sudahlah, ayo kita ke kantin. Yang
lain sudah menunggu.” Alice menyambar tanganku dan menyeretku menuju kantin.
-o00o-
@Class
Room - At 09.00am
Aku Jane Wilson, murid tingkat dua di sekolah Pierto School (*nama samaran). Alice adalah sahabatku
sejak Junior High School, nama lengkapnya Alice
Wright. Kami duduk sebangku, tepat di depan kami ada Victoria Clark dan Stephanie
Brewster—kalian bisa memanggil mereka Vic atau Fany, sahabat yang aku dan
Alice kenal ketika kami dalam masa orientasi siswa. Kemudian meja di belakangku
dan Alice diisi oleh dua orang lelaki tampan yang juga adalah sahabat kami, Andrew Feroz dan Nicholas Black. Dua lelaki paling memepesona yang selalu digilai
gadis-gadis di sekolah ini, tetapi sayangnya tidak bagiku, Alice, Victoria
ataupun Stephanie—karena mereka sahabat kami tentunya. Dan jika dilihat ke arah
samping kanan, disana ada Ethan Spencer dan Damon Smith yang lagi-lagi adalah
sahabatku juga.
Kami ber-8 sudah terbentuk dalam satu
ikatan yang kami namakan dengan ‘persahabatan’. Tidak ada materi, status, atau
apapun yang bisa membedakan kami secara nyata, karena bagi kami itu semua
bukanlah alasan ketika dengan siapa kau ingin berteman dan memiliki sahabat. Yang
terpenting adalah rasa saling percaya.
Aku dari ke-7 sahabatku adalah yang
paling memiliki jenis wajah yang berbeda, teman-temanku memiliki kulit putih
sedangkan aku sedikit kecokelatan. Mataku berwarna abu kehitaman sedangkan
teman-temanku benar-benar hitam. Mungkin karena mereka pure keturunan Korea—kecuali Nicholas dan Victoria, mereka
keturunan Thailand dan China—hanya saja semenjak tinggal disini mereka
mengganti nama mereka. Sedangkan aku, Ayahku orang Korea dan Ibuku keturunan
Belanda. Jadi aku sedikit mewarisi gen ibuku—memiliki kulit kecokelatan dan
mata yang tidak sepenuhnya hitam. Meskipun begitu, teman-temanku tidak pernah
membicarakan masalah perbedaan aku dengan mereka.
“Hei, sebaiknya lepas alat pendengar
musikmu. Madam Jessie akan masuk ke kelasa sebentar lagi.” Ujar Alice
memberitahuku agar melepasa handsfree
yang sejak tadi menyumpal kedua telingaku.
“Memangnya ada apa?”
“Memangnya kau belum tahu?” sambar
Victoria cepat sambil mencondongkan tubuhnya membuatku menoleh ke arahnya. Aku
hanya memasang tampang tidak mengerti dan mereka hanya membuang nafas kasar.
“Hari ini akan ada murid baru.” Jelas
Stephanie dan diikuti anggukan oleh Alice dan juga Victoria.
“So?
What’s the matter? (Jadi? Apa masalahnya?)” kataku agak malas. Kukira Mom
Jessie akan mengumumkan hal yang penting tentang mata pelajaran, ternyata hanya
masalah ‘murid baru’.
Ketiga gadis itu menatapku berang dan
mereka menghembuskan nafas kasar. Alice lebih dulu angkat bicara membahasnya.
“Setidaknya kita memperhatikan Mom Jessie,
kau tahu dia sangat tidak suka diacuhkan? So,
we must be focus to her... (Jadi... kita harus fokus padanya)”
“Of
course I know that (Tentu aku tahu hal itu). Dan bukankah kalian juga tahu
bahwa aku hanya akan memperhatikan hal-hal yang hanya menyangkut masalah
pelajaran, selebihnya yah... aku tidak jamin.” Satu pukulan mendarat di
keningku akibat ulah Stephanie.
“Bodoh!! Itu namanya egois, iishhh.” Katanya
galak. Astaga! Kenapa teman-temanku jadi serius begini.
“Sudahlah, terserah kalian. Tapi
jangan ganggu aku lagi oke?” kataku seraya merogoh isi tas dan mengeluarkan—lagi—novel
favoritku.
“Kau mau apa?” tanya Victoria memburu.
“Like
you see (Seperti yang kau lihat). Alice melarangku mendengarkan musik, jadi
lebih baik aku membaca novel saja. Bukankah kalian hanya ingin aku ikut
mendengarkan? Jadi aku akan membiarkan telingaku bebas.”
Aku mendengar ketiga sahabatku
mendengus sebal dan mengacuhkanku ketika Madam Jessie datang.
“Kau akan kaget setelah melihat anak
baru itu.” Gumam Stephanie tanpa melihatku, membuatku mendengus lucu.
“Aku tidak akan terpengaruh, Fany. Memangnya
kalian tahu? Seperti kalian sudah melihatnya saja.” Cetusku melanjutkan acara
membacaku. Mom Jessie mulai berbicara, meskipun mataku fokus membaca tetapi
telingaku aktif dan peka terhadap suara sekecil apapun. Mom Jessie
mempersilahkan murid baru itu untuk masuk ke dalam kelas dan seketika itupun
suara riuh mulai terdengar—mayoritas dari gadis-gadis di kelas ini—tidak lupa
ketiga sahabatku. Aku hanya mendengus dan tidak mempedulikan hal itu.
“Dia datang.” Kudengar Victoria
menggumam tetapi aku tetap acuh dan terus membaca.
“Astaga! Dia lebih tampan dari yang
aku kira.” Kudengar lagi Stephanie berucap.
“Kau akan menyesal mengabaikannya,
Jane.” Kurasa Alice meliriku namun aku tetap terus membaca.
“Oh,
man. Who’s the hell is it? (Astaga! Siapa sih?) Kalau begini, kita akan
kalah saing denganya. Bukan begitu Nick, Andrew?” kali ini giliran Ethan yang terdengar
kesal dan berbicara pada Nicholas dan Andrew.
“Of course, aku dan Nick memang akan
kalah saing. Tapi mengapa kau menyebut ‘kita’? bukankah disini hanya aku dan
Nicholas yang menjadi cowok populer?”
ujar Andrew yang disusul oleh tawa dari Nick, membuat Ethan mendesis kesal atas
ledekan Andrew.
“Attention, guys! Hari ini kita
kedatangan murid baru. Come on, let’s
introduce your self, dear. (Ayo kenalkan dirimu, nak).” Kudengar Mom Jessie
menyuruh anak itu untuk memperkenalkan dirinya, tapi aku tetap saja membaca.
Oh, ayolah. Bukannya aku sombong atau
tidak perduli, aku hanya malas dengan hal-hal spele seperti ini. Aku terlalu
sibuk dengan fikiranku hingga aku tidak terlalu mendengar jelas apa saja
rentetan kata-kata yang diucapkan oleh anak baru itu. Aku hanya mendengarnya
samar-samar, hingga...
“Aishh... siapa yang menimpukku?”
kataku refleks ketika kurasakan sebuah spidol mendarat dikeningku yang lumayan
membuatku pening. Sesaat aku tersadar bahwa suaraku terlalu keras di
tengah-tengah kelas yang sedang dalam keadaan hening.
Aku melihat ke sekeliling dan
mendapati semua orang menatapku, tidak terkecuali sahabat-sahabatku dan... oh,
astaga! Jangan tanya betapa garangnya wajah Mom Jessie saat ini. Damn! Mati kau,
Jane.
“Bisa jelaskan apa yang kau lakukan
sejak aku memasuki kelas, Ms. Wilson?” Mom Jessie kini tepat berada di depanku;
berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dan bodohnya aku tidak bisa
berkata apapun, aku memang sedari tadi tidak memperhatikan atau bahkan
mengangkat kepalaku untuk melihatnya dan juga anak—
Seketika aku terpaku saat mataku
menangkap sosok... sosok yang disebut anak baru itu. Entah mengapa aku malah
terus menatapnya dan astaga!!! Dia juga menatapku, namun tatapannya dingin dan
tajam—kendatipun wajahnya tampan. Terkesan tidak suka padaku, atau memang
begitu cara dia menatap seseorang?
Brakk!!!
Kini Mom Jessie menundukan wajahnya
setelah sebelumnya menggebrak mejaku seraya menyebut nama lengkapku dengan
lantang, dan bodohnya aku malah menoleh kaku dengan wajah culun.
“Y-yes, Mom?” kataku sedikit terbata. Bukan
karena aku takut pada Mom Jessie, tetapi... entahlah, bibirku kelu sesaat
setelah mataku bertemu pandang dengan anak baru itu.
“Mengagumi teman barumu, hm?” tanya
Mom Jessie membuat beberapa anak di kelasku menahan tawa geli. Astaga! Mereka
pasti sekarang menganggapku benar-benar bodoh hanya dengan ketampanan wajah
anak baru itu.
“Shit!”
desisku seketika dan tertunduk perlahan menahan malu, aku memejamkan mataku
sesaat dan sedetik kemudian menatap perlahan Mom Jessie. Astaga! Demi apapun,
seperti singa yang akan melahap mangsanya.
“Kau tahu aku akan masuk kelas, Ms.
Wilson?”
“Yes,
Mom.”
“Dan kau tahu bahwa aku akan
mengumumkan anak baru yang datang ke sekolah kita, hum?” Mom Jessie bertanya
seolah mengintimidasiku. Yah... kuakui aku selalu mengabaikannya jika Mom
Jessie hanya membawa pengumuman untuk hal-hal yang diluar pelajaran.
“Yes,
Mom. Aku sangat tahu itu.” Kataku berusaha tetap tenang ketika aku menjawab
semua pertanyaannya.
“Well...
Jane, aku tahu kau tidak pernah tertarik dengan hal-hal semacam ini. Tetapi kau
perlu bersosialisasi dan jangan hanya berkecimpung dengan teman dekat atau
sahabat-sahabatmu, biar bagaimanapun ‘dia’ akan menjadi bagian dari kelas
ini...” ujar Mom Jessie menunjuk sekilas ke arah anak baru itu.
“... Dan kau harus membiasakan diri
karena posisimu adalah sebagai sekertaris kelas yang bertugas dalam hal
pendataan nama-nama setiap murid disini.” Kata Mom Jessie melanjutkan dan aku
hanya mengangguk malas; seolah memahami apa yang dikatakannya barusan.
“Well...
aku sudah sering memperhatikanmu begini, Ms. Wilson. Tapi dengan berat hati
kali ini aku harus tegas...” katanya membuatku menatapnya dengan dahi
mengernyit. Apa maksudnya?
“Ms. Wilson...” gumamnya sambil
tersenyum tajam dan sarat arti. Jika Mom Jessie sudah tersenyum seperti itu,
berarti ada sesuatu yang...
“...
get out from my class. (keluar dari kelasku).” Ujarnya bagaikan petir di
siang bolong. Dan aku hanya memasang tampang bodoh.
“Y-yes?”
kataku seolah meminta penjelasan lebih dari kata-katanya yang sudah sangat
jelas bahwa dia akan menghukumku dengan menyuruhku keluar dari kelasnya.
“Keluar sekarang dan berdiri di
lapangan, understand?”
Oh,
damn! Dia bahkan menyuruhku berdiri di
lapangan. Sial.
Tanpa aba-aba aku segera bangkit dan
sedikit menoleh pada anak baru tadi yang juga tengah melihat ke arahku—dan
tatapannya belum juga berubah sejak tadi. Apa dia tidak suka ketika aku tidak
menghiraukannya tadi?
***
“Apa kali ini kau akan kapok?” tanya
Alice sambil menyodorkan sebotol minuman segar padaku. Sekarang kami berada di
kantin, aku, Alice, Fany dan Vic. Aku menyambar minuman itu dan langsung
menenggaknya sampai habis. Berada dua jam di tengah lapangan benar-benar
membuatku seperti baru saja menyelesaikan lomba marathon. Yang benar saja, ini
musim panas.
“Seharusnya kau mendengarkan ucapan
kami, Jane.” Ujar Stephanie dan Victoria mengangguk setuju.
“Betul, Jane. Sekarang kau sudah
rasakan akibatnya.”
“Hei... aku hanya tidak memperhatikan
Mom Jessie yang memperkenalkan anak baru itu, bukan tidak mengikuti kelasnya. Kalian
berbicara seolah aku baru saja membobol kas negara yang patut untuk dihukum.” Ujarku
sedikit emosi.
“Well... aku memaklumi jika Mom Jessie
bersikap tegas padamu di hadapan Elliot.” Ujar Alice membuatku bingung.
“Apa maksudmu? Dan... siapa Elliot?”
“Astaga! Ternyata kau benar-benar
menutup telingamu ketika di kelas tadi, Jane?” tanya Fany dengan tampang tidak
percaya dan setelahnya mendengus kasar.
“Elliot Johnson. Nama anak baru yang
masuk ke kelas kita tadi.” Victoria menjelaskan.
“Mom Jessie pantas bersikap tadi,
mungkin karena dia ingin menunjukan ketegasannya di hadapan kita semua agar
Elliot tidak salah paham dan mengadukan Mom Jessie yang tidak bisa tegas kepada
Ayahnya.” Kata-kata Alice membuatku bingung dan kesal. Apa maksudnya?
“Hei... bisakah kalian to the piont?” tanyaku sedikit menaikan
nada suaraku setengah oktaf. Kulihat Stephanie menghela nafas dan sedetik
kemudian dia menatapku serius.
“Well...
Elliot adalah putra dari Mr. Johnson, kepala sekolah kita.”
“WHAT??!!!!!”
aku terperangah mendengar hal yang baru saja Fany ucapkan.
-oo00oo-
Lagi-lagi kututup buku yang sedang
kubaca. Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang diucapkan Stephnie
kemarin. Astaga! Yang benar saja, jadi anak baru itu putra dari Mr. Johnson.
Hah! Jelas mereka memiliki nama
belakang yang sama. Sial. Kau baru saja mencari masalah dengannya, Jane. Anak
itu pasti akan membuat perhitungan padaku karena sikapku kemarin.
“Oh,
God!!” tanpa sadar aku menelungkupkan wajahku di atas meja. Apa yang harus
kulakukan sekarang?
“Hey... ini masih pagi, jangan tidur
di kelas.” Kudengar seseorang menjitak kepalaku yang langsung membuatku refleks
mengangkat kepalaku.
“Fany... eiishhh. What the hell? Aku tidak berniat untuk tidur.” Sergahku meluruskan.
“Lalu apa yang sedang kau lakukan
tadi?” sambung Alice yang kini sudah duduk di sebelahku.
“Guys...
apa menurut kalian aku akan mendapat panggilan dari kepala sekolah?” tanyaku
lesu. Ketiga sahabatku hanya mengendikkan bahu mereka berbarengan.
“Semua tergantung anak itu, kalau dia
tidak mengadukan ulahmu kemarin pada Ayahnya, kurasa kau aman-aman saja.” Ujar
Victoria membuatku sedikit lega.
“Tapi dari yang kudengar, Elliot
adalah orang yang tidak mudah memaafkan orang lain yang telah membuat masalah
padanya. Dan dia tidak akan begitu saja melepaskan orang itu dengan mudah
sebelum dia membuat perhitungan padanya.” Tambah Stephanie yang sontak
membuatku membulatkan mata terperangah.
Astaga! Sebegitu parahnyakah
kesalahanku padanya?
“Menurutku dia sangat menakutkan. Kau
tidak lihat bagaimana cara dia menatap seseorang dan—“
“Siapa yang menakutkan?”
Seketika Stephanie menghentikan
ucapannya saat sebuah suara menginterupsi kami menjadi hening. Perlahan kami
menoleh ke arah sumebr suara dan mendapati... anak—ah maksudku Elliot—sedang
berdiri beberapa langkah di depan kami berempat.
Astaga! Apa lelaki itu tidak bisa
memasang ekspresi yang lebih bagus dikit dari pada tatapan dinginnya itu? Ck...
dasar menusia batu.
“Apa setiap hari kalian hanya bisa
membiacarakan orang di pagi hari?” ujarnya mengintimidasi kami, membuatku
sedikit kesal.
Apa-apaan pria ini? Seenaknya saja
menilai aku dan teman-temanku seperti itu. Seperti sudah mengenal kami saja.
“Ah, E-el... good morning.” Ujar Stephanie berusaha mengalihkan pembicaraan
sambil tertawa kaku.
“Aku bukan pengadu, jika kalian ingin
tahu.” Ujarnya membuat kami terdiam seketika.
Astaga! Sejak kapan lelaki ini
menguping pembicaraan kami? Oh, My...
Elliot berjalan menuju kursinya dan
membuka buku sambil memasang handsfree di
kedua telinganya.
Sial!! Mengapa aku jadi
memperhatikannya seperti ini?
Aku mengerjapkan mataku berusaha
mentralisir deguban jantungku yang entah mengapa kali ini berdetak tidak
seperti biasanya.
“Hey... kau melamun?” tanya Alice
menyadarkanku sedangkan Stephanie seperti orang kebakaran jenggot karena baru
menyadari bahwa Elliot mendengar ucapannya tadi.
“Oh
My God... apa aku juga akan dihukum sepertimu Jane?” tanyanya tercekat.
***
Tiba-tiba buku yang kupegang terjatuh
begitu saja saat mataku menangkap sosoknya yang tiba-tiba berada di depanku
ketika aku berbaling hendak keluar dari toko buku.
Elliot.
Aku menghembuskan nafas kasar seraya
memejamkan mata. Aku membungkuk sebentar untuk mengambil buku yang terjatuh
tadi.
Lelaki tengik ini. Apa maksudnya
membuatku terkejut, huh? Oh, God.
Sial... apa dia ingin membuat perhitungan denganku?
“S-sorry.
(Permisi.)” Ucapku singkat dan sialnya nada bicaraku malah terdengar gugup.
Entahlah, padahal aku sudah berusaha bersikap tenang di depannya. Aku hendak
berjalan melewatinya namun dia menghalangiku, kutatap dia dengan alis mata terangkat
sebelah.
“Aku sudah mencari di seluruh rak buku
yang ada di toko buku ini ini, dan penjaga toko bilang buku itu memang hanya
tersisa satu, dan sekarang sedang berada dalam genggamanmu.” Ujarnya membuatku
mengernyit dan tidak bisa mencerna dengan cepat apa maksud dari rentetan
kata-kata yang baru saja pria ini ucapkan.
“I’m
sorry? (Maaf?)?” tanyaku berusaha mendapat penjelasan lebih dari ucapannya
barusan. Kulihat dia menghela nafas—entah itu kesal atau apalah—dan memalingkan
wajahnya sesaat lalu kemudian menatapku kembali.
Astaga! Aku yang baru menyadarinya,
atau memang dia memiliki mata yang indah? Kenapa aku baru sadar kalau lelaki
ini memiliki mata yang—oh, damn!!
Jane, apa yang kau pikirkan?
Sesaat otakku blank dan sulit sekali menjalankan otakku untuk berpikir lebih
keras.
“Kurasa kau tak sebodoh itu untuk
mengerti apa maksud dari ucapanku tadi. So,
i need this book, right? (Jadi , aku membutuhkan buku ini, oke?”
Dan dalam hitungan detik serta hanya
dalam sekejap mata, buku yang tengah kupegang tadi sudah berpindah ke
tangannya.
“Terimakasih sudah mencarinya
untukku.” Kulihat dia pergi menuju kasir lalu mengeluarkan beberapa lembar uang
dan membayarnya.
Kata-kata itu seolah membuyarkan
lamunanku dan mengembalikan kejernihan otakku yang sebelumnya tidak bisa
berfungsi.
What?
Wait!!! Bukuku..???
“Hey,
wait!!!” teriakku seketika saat seluruh kesadaranku pulih bahwa buku yang
sedang kubutuhkan sudah tidak lagi dalam genggamanku.
***
“Hey,
wait!!! Hey...!!!” aku terus berteriak memanggil Elliot ketika lelaki itu
terus berjalan tanpa mengindahkan panggilanku.
Kuraih bahu belakangnya dan membalikan
tubuhnya sedikit kasar, membuat kami kini saling berhadapan di depan koridor
pertokoan.
“This
is mine. (Ini milikku)” Ucapku ketus dan mencoba merebut buku yang tengah
berada dalam genggaman tangan kanannya, namun secepat kilat Elliot mengangkat
tangannya ke atas membuatku gagal merebut buku itu.
Aku mengernyitkan dahi dan memasang
tampang semarah mungkin—dan aku memang sedang marah. Apa-apaan lelaki ini,
mengambil buku yang sudah susah payah kucari setangah mati. Jika aku gagal
memiliki buku ini, habislah aku oleh Mom Jessie.
“Hey, ini adalah buku milik umum.
Jangan salahkan aku mengapa kau tidak bisa mempertahankannya. Aku sudah
memintanya baik-baik denganmu tadi dan kau hanya diam saat kuambil buku ini
dari tanganmu, dan kuanggap ‘diam’mu itu adalah kata lain dari setuju. So, that’s not my fault, isn’t it?
(Jadi, ini bukan kesalahanku, kan?” ucapnya datar hampir tanpa ekspresi.
Hell...!!
Apa maksud pria ini? Dasar bajingan tengik! Bisa-bisanya mengelabuiku.
“Aku bahkan tidak menyadari saat kau
mengambilnya dariku dan aku sama sekali tidak mengijinkanmu mengambilnya. Aku
yang menemukan buku ini dan aku juga sedang membutuhkannya. Kau tidak bisa
seenaknya mengambil buku itu dariku.” Ucapku hampir tanpa jeda dan berakhir
dengan nafas terengah-engah dan mataku menatapnya tajam.
“Baiklah, Nona. Kau dan aku sama-sama
membutuhkan buku ini, kalau begitu kita belajar bersama saja.”
Ucapannya membuatku membelalakan
mata—bukan hanya karena ucapannya—sedetik setelah dia mengucapkan hal itu,
tangannya meraih tanganku dan menyeretku berjalan bersamanya.
Astaga! Apa-apaan lelaki ini?
“Hey...
what the hell is it? (Hei, apa-apaan ini?” aku berusaha meronta melepaskan
genggaman tangannya yang terus menyeretku menelusuri koridor pertokoan.
“Hey...
get off me!!! (Lepaskan aku!!!)” akhirnya aku bisa melepas paksa cengkraman
tangannya yang menarikku; kulihat sedikit bekas kemerahan dipergelangan
tanganku. Aku tahu genggamannya berubah menjadi cengkeraman ketika aku berusaha
keras melepaskan diri. Tapi apa maksud lelaki ini dengan mengajakku belajar
bersama? Kami bahkan tidak saling kenal dan kami baru bertemu kemarin.
Aku menatapnya berang sembari
memegangi tanganku yang kemerahan.
“You
sick!! (Dasar gila!!)”
Aku meninggalkannya dengan wajah
memerah menahan amarah, dan ku akui ucapan terakhirku sedikit kencang hingga
beberapa orang yang sedang berada didekat kami menatap aneh ke arahku dan
Elliot.
Gila!!! Mereka pasti berpikir yang
tidak-tidak. Sial..!!!
-oo00oo-
Dia berjalan cepat dan meninggalkanku
dengan kata-kata terakhirnya yang mengatakan bahwa aku ‘gila’.
Tsk! Gadis itu, dia bahkan
satu-satunya gadis yang pertama kalinya bersikap dingin terhadapku. Selama ini,
tidak ada gadis yang tidak merespon baik padaku. Semuanya bahkan berharap bisa
mendekatiku dan bahkan menjadi kekasihku. Tapi tidak dengannya. Entahlah, gadis
itu memang aneh. Tapi justru aku lebih tertarik padanya dibandingkan dengan
gadis-gadis kebanyakan.
Wajahnya oriental, terlihat sekali
bahwa dia memiliki campuran darah biru yang mengalir di dalam darahnya. Gadis
itu cantik, memiliki postur tubuh yang mungil dan wajah yang terlampau seperti
anak-anak. Dia bahkan tidak seperti anak berusia 16 tahun. Astaga, aku pasti
sudah gila. Semenjak hari itu, hari dimana pertama kali aku melihatnya,
semuanya terasa berbeda. Tidak ada yang lebih menarik perhatianku selain
memperhatikan wajahnya dari kejauhan.
Jane...
Nama itu telah tertanam kuat di dalam
otakku. Namun aku tidak yakin aku bisa berhasil membuatnya sedikit saja
mengalihkan perhatiannya padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar