Senin, 07 Juli 2014

The Distant Memories of You Bab 1


Author         : Kim Rae Na
Tittle           : The Distant Memories of You
Genre          : Drama, Romance, Sad, Friendship, Fiction
Rating          : General
Language     : Indonesian, Korean, English
Setting         : Los Angeles (Amerika), Seoul (Korea Selatan).
Plot             : Present, Flash Back and Flash Forward
POV             : Author’s POV (3rd People)
  Jane’s POV (1st People)
  Elliot’s POV (2nd People)
CAST            :
1.   Jane Park as Jane Wilson (Main Cast)
2.   Kyuhyun Cho as Elliot Johnson/El (Main Cast)
3.   Sooyoung Choi as Alice Wright (Support Cast)
4.   Tiffany Hwang as Stephanie Brewster/Fany  (Support Cast)
5.   Victoria Song as Victoria Jones (Support Cast)
6.   Nickhun Horvejkul as Nicholas Black/Nick (Support Cast)
7.   Siwon Choi as Andrew Feroz (Support Cast)
8.   Eunhyuk Lee as Ethan Spencer (Support Cast)
9.   Lee Donghae as Damon Smith (Support Cast)
10.Kim Hyoyeon as Madam Tereshia Kim/Lecturer (Cameo)
11.Jessica Jung as Madam Jessie/Teacher (Cameo)
12.Park Jungsoo as Johnson Park/Headmaster (Cameo)
NB:
·         Present, menunjukan waktu saat ini
·         Flash Back, menunjukan kisah di masa lalu (beberapa tahun ke belakang)
·         Flash Forward, menunjukan waktu sekarang setelah diselingi Flash Back
·         Tulisan bercetak miring adalah bahasa asing di luar bahasa Indonesia
·         Tulisan di dalam kurung adalah arti dari bahasa asing tersebut

“This is pure my own story, i made this by my mind. I just make that actrises and actors for my characters here. Sorry if there is a same characters with the fact. And this story based on my experiences between me and somebody. And i remind you one more time, this is my own story. So, don’t co-pas this. Thanks for all your time to read this and i appreciate you all. Dan jangan hiraukan masalah perbedaan tahun yang terlampau mengada-ada dari kenyataan sebenarnya, karena pada dasarnya ini hanyalah cerita fiksi yang diangkat dari sebuah pengalaman. Thanks a lot.”
Summary

“... Ketika kau meninggalkanku dengan alasan bahwa kau tidak ingin menyakitiku, itulah awal dimana aku merasakan semua rasa sakit dan penderitaan yang bahkan tidak pernah kubayangkan bagaimana rasanya. Dan ketika aku mulai berusaha untuk melupakanmu, kau kembali datang dengan semua penyesalan yang kau rasa...”

***
1
Present – Saturday, April 20th 2019
Seoul, South Korea

Hari ini adalah hari bahagia untuk dua orang sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri. Victoria Song dan Nickhun Horvejkul. Dua orang yang dipertemukan oleh dasar persahabatan ketika mereka sama-sama duduk dibangku sekolah menengah atas. Dua tahun bersama dan dilanjutkan dengan duduk di bangku kuliah-pun bersama selama 4 tahun, adalah waktu yang cukup bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain dan akhirnya merasakan hal yang sama, membagi kasih dan menjalin hubungan, hingga akhirnya sampailah mereka pada saat ini. Saat dimana mereka mengakhiri masa lajang mereka, memberikan seluruh hidup mereka satu sama lain pada orang yang mereka cintai.
Dan ketika moment itu datang, semua orang bertepuk tangan dan tertawa haru menyaksikan acara sakral tersebut. Memberikan selamat dengan tulus hingga akhirnya setelah acara semakin malam semakin sepi, kini hanyalah beberapa orang sahabat itu duduk berkumpul disebuah meja bundar yang betempat disebuah taman di depan beranda rumah yang menguhubungkan antara ruang santai dan taman tersebut.

“Aku masih tidak menyangka kalau kalian benar-benar akan sampai pada tahap ini.” Ujar seorang gadis berpenampilan sederhana setelah sebelumnya menyesap vodka yang telah tersedia di meja tersebut. Jane. Wanita keturunan Korea – Belanda, satu-satunya orang yang memiliki latar belakang yang berbeda dari yang lainnya. Campuran. Sedangkan yang lain pure keturunan Korea—terkecuali Victoria dan Nickhun, mereka keturunan Cina dan Thailand.

“Dan kalian benar-benar pintar menyembunyikan semuanya, padahal kalian ternyata sudah menjalin hubungan ketika berada di tahun ke-2 universitas.” Timpal seorang perempuan tinggi semampai yang tepat berada di sebelah Victoria. Namanya Choi Sooyoung.

“Kalian bahkan selalu berbohong ketika kami bertanya apakah kalian berhubungan atau tidak. Ckck... kalian benar-benar pasangan yang ahli dalam hal menipu kami.” Timpal Tiffany yang kini tengah mengunyah buah anggur yang ikut menjadi hidangan pencuci mulut di meja bundar tersebut.

“Hei, kami hanya tidak ingin membuat kalian salah paham. Yah, kalian pasti tahu bahwa kita dulu semua saling bersahabat, dan jika kami tiba-tiba memberitahu kabar bahwa kami telah menjadi sepasang kekasih, aku tidak yakin kalian akan diam-diam saja.” Jelas Nickhun membuat semua orang yang berada ditempat tersebut tergelak bersama.

“Eiishhh... sebelum kalian bahkan ada aku dan Siwon-oppa yang sudah mengalami hal tersebut, arra? (Tahu)” selang Sooyoung.
Sooyoung dan Siwon. Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah satu tahun yang lalu, dan kini Sooyoung tengah mengandung usia 5 bulan. Kedua pasangan tersebut terlihat sangat bahagia.


“Omong-omong, dimana suamimu Sooyoung-ah? Kulihat kau hanya datang sendiri sejak awal.” tanya Eunhyuk yang sedari tadi hanya diam dan tertawa kini mulai mengeluarkan suaranya. Mungkin karena dia adalah satu-satunya lelaki lajang diantara mereka—saat ini, lelaki itu jadi tidak terlalu nyaman.

“Oh, aku baru sadar Siwon tidak ada—dan juga kemana Donghae?” timpal Nickhun.

“Siwon oppa dan Donghae oppa pergi bersama, mereka bilang akan bertemu seseorang.” Jelas Sooyoung.

Ne (ya), betul. Mungkin sebentar lagi mereka akan menyusul.” Tambah Tiffany yang hanya dibalas anggukan mengerti oleh semuanya.

“Ekhm... omong-omong, kau belum mau mengakhiri masa lajangmu Jane?” tanya Fany tiba-tiba, membuat gadis yang ditanya sontak menoleh cepat ke arahnya.

“Ahaha, hei... apa yang kau bicarakan? Kau bahkan dan Donghae belum mengakhiri masa lajang, kenapa harus aku.” Jawab Jane tertawa renyah.

“Yah! Dia benar, Donghae bahkan belum melamarmu, Fany hahaa...” timpal Eunhyuk meledek Tiffany, dan gadis itu hanya menggembungkan pipinya sebal.

“Setidaknya aku memiliki Donghae oppa, kau sendiri? Kenapa masih single sampai sekarang?” ujar Fany meledek balik Eunhyuk yang disusul gelak tawa dari yang lainnya. Dan lelaki itu hanya mendengus sebal dengan mulut yang komat-kamit tidak jelas.

“Hei, Jane. Lihatlah, mungkin Eunhyuk masih menunggumu.” Cetus Nickhun tiba-tiba membuat Jane tertegun.

Ya... Eunhyuk memang sudah menyukai Jane sejak lama, bahkan ketika mereka baru pertama kali masuk sekolah menengah. Dan hal itu sudah diketahui oleh semuanya. Hanya saja Jane selalu menanggapinya dengan tenang dan senyum. Gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama terhadap Eunhyuk, mereka semua sudah sama-sama tahu itu. Dan Eunhyuk berusaha untuk menerimanya, hanya saja lelaki itu belum menemukan yang pas selain dari pada Jane.

Tidak ubahnya Jane, gadis itu bahkan tidak pernah benar-benar mempunyai hubungan khusus—sebut saja ‘pacaran’—dengan lelaki setelah kejadian itu. Kejadian dimana Jane untuk pertama kalinya merasakan cinta dan sakit secara bersamaan. Entahlah, mungkin gadis itu trauma atau apapun itu. Yang jelas, sampai sekarang Jane bahkan tidak bisa menghapus ‘dia’ dari pikiran dan kenangannya.

Tiba-tiba keadaan jadi hening, semua orang tersadar dengan apa yang kini Jane rasakan.

“Jane, sampai kapan kau akan terus seperti ini?” tanya Sooyoung pelan dan Victoria ikut mengusapkan tangannya pada bahu Jane, mencoba menenangkan

“Kau harus melupakannya Jane, ‘dia’ bahkan sama sekali tidak pernah memperdulikanmu selama kau jauh darinya. Mungkin ‘dia’ memang benar, kau harus mencari penggantinya. ‘Dia’ mungkin bukan jodohmu.” Ujar Tiffany yang mendapat anggukan dari yang lainnya.

“Jane, sebagai seorang lelaki... Aku mengerti mengapa ‘dia’ memilih untuk menyuruhmu melupakannya, dia pasti ingin kau mendapat yang terbaik, Jane.” Sambung Nickhun.

“Hei, kenapa kalian jadi sedih begini? Aku baik-baik saja, percayalah—“

“Kau bahkan selalu bersikap seolah kau tegar dan kuat, padahal jauh di dalam sana kami tahu kau sakit.” Selang Eunhyuk membuat semuanya terdiam.
Jane memang selalu seperti itu, menutupi semua rasa sakitnya dengan bersikap seolah dia baik-baik saja.

“Aku minta maaf... aku memang tengah berusaha melupakannya, mungkin aku memang harus mulai mencoba membuka hatiku untuk yang lain.” Ujar Jane yang dibalas anggukan mantap dari semuanya.

“Kami selalu mendukungmu, Jane.” Ujar Sooyoung dan Victoria, dan Tiffany dan Nickhun hanya mengangguk setuju.

“Dan aku tidak pernah berhenti mendukungmu.” Ujar Eunhyuk dengan diiringi senyum lebar membuat Jane terkikik kecil dan yang lain hanya bisa tertawa.

“Sepertinya kau harus bekerja keras, Hyuk-ah.” Ujar Nickhun dan Jane hanya bisa tersenyum tipis.

“Aku memang selalu berusaha, kawan.” Jawab Eunhyuk mantap.

“Aku menunggu saat itu tiba, Mr. Lee” jawab Jane dan semuanya tertawa senang.
Mungkin ini yang terbaik untuk Jane. Dia akan berusaha membuka hatinya untuk Eunhyuk, lelaki yang memang sejak dulu tidak pernah berhenti memperhatikannya. Apalagi di saat Jane mengalami hal-hal terberat semenjak dia mengalami hal yang membuatnya benar-benar sakit.

“Sepertinya kopinya perlu tambahan, aku akan ke pantri sebentar.” Kata Jane beranjak menuju dapur untuk mengambil kopi lagi.

“Aku harap Jane bisa terlepas dari rasa sakitnya selama ini, Sooyoung-­ssi.” Ujar Tiffany dan Victoria melanjutkan...

“Dia bahkan tidak pernah sedikitpun merasakan kasih sayang dari seseorang—kau tahu, maksudku... sosok pria.”

“Benar.” Nickhun menambahkan.

Ditengah-tengah pikiran mereka yang tengah memikirkan Jane, suara ponsel Sooyoung membuat mereka tersadar dan gadis jangkung itu segera menjawabnya.

Ne, oppa...” >> (Oppa, bisa diartikan sebagai kakak laki-laki. Kebanyakan perempuan Korea menggunakan kata tersebut untuk memanggil kakak lelaki, kekasih atau suami mereka).

“........”

Ne, kami masih berada disini. Kami berada di taman belakang.”

“........”

“Jane? Dia ada di dapur sedang mengambil kopi, ada apa?” dahi Sooyoung mulai mengernyit bingung ketika Siwon menanyakan Jane.

“APA...??”


***


“Bagaimana bisa dia kembali?” bisik Sooyoung pada Siwon seraya menatap ‘lelaki’ yang kini tengah duduk diantara Nickhun dan Eunhyuk. Mereka tengah mengobrol asik—lebih tepatnya Nickhun dan ‘lelaki’ itu, bernostalgia membicarakan hal-hal di masa lalu.

“Kau mengundangnya?” tanya Victoria pada Nickhun.

Ne, kupikir tidak ada salahnya memberitahunya tentang pernikahan kita. Aku tidak benar-benar mengira ‘dia’ akan benar-benar datang.” Jawab Nickhun setengah berbisik, berusaha agar ‘lelaki itu’ tidak mendengarnya.

“Well... kapan kau berniat kembali ke Busan?” tanya Eunhyuk. Sedikit terselip nada dingin di balik pertanyaannya barusan.

“Hei Eunhyuk-ah, ‘dia’ bahkan baru datang ke Seoul kemarin malam. Kenapa kau bertanya seperti itu?” selang Tiffany memngingatkan.

“Ah, aniya (tidak). Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja... kukira dia sangat sibuk dan pasti akan buru-buru kembali ke tempat asalnya.” Jelas Eunhyuk membuat semuanya tidak bisa lagi menjawab.

Well... sebelumnya aku berterimakasih pada Nickhun dan Victoria yang sudah mengundangku ke acara pesta kalian. Dan... senang sekali bisa bertemu kalian lagi.” Ujar’nya’ tanpa ada yang membalas sedikitpun untuk beberapa saat.

Well... aku juga berterimakasih kau sudah mau meluangkan waktumu datang jauh-jauh kesini meskipun sebenarnya aku tidak menyangka kau akan datang.” Nickhun tertawa kecil berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba saja tegang.

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Jane ketika dia melihat’nya’ nanti, Vic.” Fany berbisik pada Victoria dengan suara pelan.

Oppa, bagaimana kalau Jane bertemu dengan ‘dia’?” kini giliran Sooyoung yang berbisik pada Siwon. Merasa cemas jika tiba-tiba Jane keluar dan melihat ‘seseorang’ yang selama ini menjadi alasannya tidak pernah membuka hati untuk siapapun.

“Tenanglah, ‘dia’ memang berniat untuk bertemu Jane.” Siwon kembali berbisik.

Mwo? (Apa?)” Sooyoung terkejut bukan main mendengar alasan ‘dia’ datang kesini bukan hanya sekedar untuk menghadiri acara pernikahan mereka, melainkan karena memang ‘lelaki itu’ ingin bertemu Jane.

“Apa kau gila?” bisik Eunhyuk yang tanpa sengaja mendengar pembiacaraan Sooyoung dan Siwon. Pria itu terlihat geram dan berusaha menghalangi.

“Hyuk, biarkan saja dulu.” Siwon menahan tangan Eunhyuk yang akan beranjak bangkit berusaha mencegah semua itu. Dan Eunhyuk kembali duduk dengan sangat terpaksa.

Here we go...


“Kopinya datang...” terdengar suara riang Jane dari kejauhan dan dengan santai gadis itu berjalan menuju meja dimana mereka sedang berkumpul.
Jane seketika menghentikan langkahnya beberapa meter sebelum benar-benar sampai disana, matanya membulat sempurna dan nafasnya bahkan tercekat. Seluruh tubuhnya menegang seketika dan gadis itu tidak bisa memikirkan apapun selain apa yang kini dilihatnya. Dan kopi itu seketika terlepas dari genggaman tangannya, mengenai kakinya yang pasti terasa panas. Namun Jane tidak merasakannya, dia terlampau terkejut dan tertegun dengan apa yang kini dilihatnya.
Bahkan rasa sakit dikakinya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang kini kembali terasa di hatinya ketika dia melihat wajah ‘lelaki’ itu. Bagai luka lama yang kembali menganga dan terasa perih. Hal tersebut membuat semua orang panik namun Jane tetap terpaku ditempatnya. Perlahan bibirnya bergerak menggumamkan sesuatu. Sebuah nama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

“Elliot...”

***


And the story just begin...


Flash back - Thursday, January 22th 2009

@Pierto School, Belanda - At 07.00am

Jam 7 pagi ini aku kembali memasuki kelasku. Ini adalah tahun kedua aku berada di Senior High School. Suasananya masih seperti biasa, sepi dan tenang. Aku kembali membuka novel best seller kesukaanku dan tidak lupa ku pasang headset di kedua telingaku. Ini sudah menjadi kebiasaanku setiap pagi, aku akan selalu menghabiskan waktu lima belas menitku untuk membaca. Saat ini memang masih suasana setelah liburan, jadi aku masih bisa santai dan tidak pusing-pusing untuk membuka buku ketika pelajaran akan di mulai.
Aku kini berada di semester akhir tingkat dua, setelah sebulan yang lalu aku dan semua murid di sekolah ini melewati ujian akhir semester. Kelas di mulai pada jam 7.15 pagi ini, tapi sudah hampir jam setengah 8 murid yang lain belum juga datang. Kuputuskan untuk menyudahi acara membacaku, namun tidak dengan acara mendengarkan musik. Kulihat papan tulis yang masih ada sedikit sisa-sisa tinta spidol, mungkin petugas kebersihan lupa akan hal ini. Aku berdiri dan kemudian berjalan untuk membersihkan papan tulis itu sambil bersenandung kecil, menghilangkan rasa sepi karena masih berada di dalam kelas sendirian. Sejujurnya aku paling tidak suka dengan kesendirian—terlalu mencekam.



“Jane...”

Kurasakan ada seseorang yang memanggilku. Atau hanya halusinasiku saja? Sejenak aku mengabaikan hal itu dan melanjutkan untuk membersihkan papan tulis lagi.

          “Jane..!!!”

Suara itu semakin jelas... setelah itu kurasakan seseorang melepas headset yang sedang kugunakan. Oh, shit... ini pasti Si Cerewet. Kutolehkan kepalaku dan... benar saja, nenek lampir itu sudah berdiri di hadapanku. Aku hanya memasang wajah tenang dan datar.

          “Astaga!! Pantas saja aku memanggilmu kau tidak dengar. Ck... hentikan kebiasaan mendengarkan musikmu yang terlalu keras itu, Jane. Kau bahkan pasti tidak akan mendengar jika kita dikirimkan bom nuklir seperti yang terjadi di kota Hiroshima dan Nagasaki.”
Aku menarik nafasku pelan sambil memutar kedua bola mataku.

“Jangan berlebihan, Alice. Aku tidak akan setuli itu untuk tidak mendengar jika ada yang mengirimkan bom nuklir ke kota kita.” Ucapku mencibir dan Alice hanya menggelengkan kepalanya malas.

“Sudahlah, ayo kita ke kantin. Yang lain sudah menunggu.” Alice menyambar tanganku dan menyeretku menuju kantin.

-o00o-


@Class Room - At 09.00am

Aku Jane Wilson, murid tingkat dua di sekolah Pierto School (*nama samaran). Alice adalah sahabatku sejak Junior High School, nama lengkapnya Alice Wright. Kami duduk sebangku, tepat di depan kami ada Victoria Clark dan Stephanie Brewster—kalian bisa memanggil mereka Vic atau Fany, sahabat yang aku dan Alice kenal ketika kami dalam masa orientasi siswa. Kemudian meja di belakangku dan Alice diisi oleh dua orang lelaki tampan yang juga adalah sahabat kami, Andrew Feroz dan Nicholas Black. Dua lelaki paling memepesona yang selalu digilai gadis-gadis di sekolah ini, tetapi sayangnya tidak bagiku, Alice, Victoria ataupun Stephanie—karena mereka sahabat kami tentunya. Dan jika dilihat ke arah samping kanan, disana ada Ethan Spencer dan Damon Smith yang lagi-lagi adalah sahabatku juga.
Kami ber-8 sudah terbentuk dalam satu ikatan yang kami namakan dengan ‘persahabatan’. Tidak ada materi, status, atau apapun yang bisa membedakan kami secara nyata, karena bagi kami itu semua bukanlah alasan ketika dengan siapa kau ingin berteman dan memiliki sahabat. Yang terpenting adalah rasa saling percaya.
Aku dari ke-7 sahabatku adalah yang paling memiliki jenis wajah yang berbeda, teman-temanku memiliki kulit putih sedangkan aku sedikit kecokelatan. Mataku berwarna abu kehitaman sedangkan teman-temanku benar-benar hitam. Mungkin karena mereka pure keturunan Korea—kecuali Nicholas dan Victoria, mereka keturunan Thailand dan China—hanya saja semenjak tinggal disini mereka mengganti nama mereka. Sedangkan aku, Ayahku orang Korea dan Ibuku keturunan Belanda. Jadi aku sedikit mewarisi gen ibuku—memiliki kulit kecokelatan dan mata yang tidak sepenuhnya hitam. Meskipun begitu, teman-temanku tidak pernah membicarakan masalah perbedaan aku dengan mereka.

“Hei, sebaiknya lepas alat pendengar musikmu. Madam Jessie akan masuk ke kelasa sebentar lagi.” Ujar Alice memberitahuku agar melepasa handsfree yang sejak tadi menyumpal kedua telingaku.

“Memangnya ada apa?”

“Memangnya kau belum tahu?” sambar Victoria cepat sambil mencondongkan tubuhnya membuatku menoleh ke arahnya. Aku hanya memasang tampang tidak mengerti dan mereka hanya membuang nafas kasar.

“Hari ini akan ada murid baru.” Jelas Stephanie dan diikuti anggukan oleh Alice dan juga Victoria.

So? What’s the matter? (Jadi? Apa masalahnya?)” kataku agak malas. Kukira Mom Jessie akan mengumumkan hal yang penting tentang mata pelajaran, ternyata hanya masalah ‘murid baru’.

Ketiga gadis itu menatapku berang dan mereka menghembuskan nafas kasar. Alice lebih dulu angkat bicara membahasnya.

“Setidaknya kita memperhatikan Mom Jessie, kau tahu dia sangat tidak suka diacuhkan? So, we must be focus to her... (Jadi... kita harus fokus padanya)”

Of course I know that (Tentu aku tahu hal itu). Dan bukankah kalian juga tahu bahwa aku hanya akan memperhatikan hal-hal yang hanya menyangkut masalah pelajaran, selebihnya yah... aku tidak jamin.” Satu pukulan mendarat di keningku akibat ulah Stephanie.

“Bodoh!! Itu namanya egois, iishhh.” Katanya galak. Astaga! Kenapa teman-temanku jadi serius begini.

“Sudahlah, terserah kalian. Tapi jangan ganggu aku lagi oke?” kataku seraya merogoh isi tas dan mengeluarkan—lagi—novel favoritku.

“Kau mau apa?” tanya Victoria memburu.

Like you see (Seperti yang kau lihat). Alice melarangku mendengarkan musik, jadi lebih baik aku membaca novel saja. Bukankah kalian hanya ingin aku ikut mendengarkan? Jadi aku akan membiarkan telingaku bebas.”
Aku mendengar ketiga sahabatku mendengus sebal dan mengacuhkanku ketika Madam Jessie datang.

“Kau akan kaget setelah melihat anak baru itu.” Gumam Stephanie tanpa melihatku, membuatku mendengus lucu.

“Aku tidak akan terpengaruh, Fany. Memangnya kalian tahu? Seperti kalian sudah melihatnya saja.” Cetusku melanjutkan acara membacaku. Mom Jessie mulai berbicara, meskipun mataku fokus membaca tetapi telingaku aktif dan peka terhadap suara sekecil apapun. Mom Jessie mempersilahkan murid baru itu untuk masuk ke dalam kelas dan seketika itupun suara riuh mulai terdengar—mayoritas dari gadis-gadis di kelas ini—tidak lupa ketiga sahabatku. Aku hanya mendengus dan tidak mempedulikan hal itu.

“Dia datang.” Kudengar Victoria menggumam tetapi aku tetap acuh dan terus membaca.

“Astaga! Dia lebih tampan dari yang aku kira.” Kudengar lagi Stephanie berucap.

“Kau akan menyesal mengabaikannya, Jane.” Kurasa Alice meliriku namun aku tetap terus membaca.

Oh, man. Who’s the hell is it? (Astaga! Siapa sih?) Kalau begini, kita akan kalah saing denganya. Bukan begitu Nick, Andrew?” kali ini giliran Ethan yang terdengar kesal dan berbicara pada Nicholas dan Andrew.

“Of course, aku dan Nick memang akan kalah saing. Tapi mengapa kau menyebut ‘kita’? bukankah disini hanya aku dan Nicholas yang menjadi cowok populer?” ujar Andrew yang disusul oleh tawa dari Nick, membuat Ethan mendesis kesal atas ledekan Andrew.

“Attention, guys! Hari ini kita kedatangan murid baru. Come on, let’s introduce your self, dear. (Ayo kenalkan dirimu, nak).” Kudengar Mom Jessie menyuruh anak itu untuk memperkenalkan dirinya, tapi aku tetap saja membaca.
Oh, ayolah. Bukannya aku sombong atau tidak perduli, aku hanya malas dengan hal-hal spele seperti ini. Aku terlalu sibuk dengan fikiranku hingga aku tidak terlalu mendengar jelas apa saja rentetan kata-kata yang diucapkan oleh anak baru itu. Aku hanya mendengarnya samar-samar, hingga...

“Aishh... siapa yang menimpukku?” kataku refleks ketika kurasakan sebuah spidol mendarat dikeningku yang lumayan membuatku pening. Sesaat aku tersadar bahwa suaraku terlalu keras di tengah-tengah kelas yang sedang dalam keadaan hening.
Aku melihat ke sekeliling dan mendapati semua orang menatapku, tidak terkecuali sahabat-sahabatku dan... oh, astaga! Jangan tanya betapa garangnya wajah Mom Jessie saat ini. Damn! Mati kau, Jane.

“Bisa jelaskan apa yang kau lakukan sejak aku memasuki kelas, Ms. Wilson?” Mom Jessie kini tepat berada di depanku; berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dan bodohnya aku tidak bisa berkata apapun, aku memang sedari tadi tidak memperhatikan atau bahkan mengangkat kepalaku untuk melihatnya dan juga anak—
Seketika aku terpaku saat mataku menangkap sosok... sosok yang disebut anak baru itu. Entah mengapa aku malah terus menatapnya dan astaga!!! Dia juga menatapku, namun tatapannya dingin dan tajam—kendatipun wajahnya tampan. Terkesan tidak suka padaku, atau memang begitu cara dia menatap seseorang?

Brakk!!!

Kini Mom Jessie menundukan wajahnya setelah sebelumnya menggebrak mejaku seraya menyebut nama lengkapku dengan lantang, dan bodohnya aku malah menoleh kaku dengan wajah culun.

“Y-yes, Mom?” kataku sedikit terbata. Bukan karena aku takut pada Mom Jessie, tetapi... entahlah, bibirku kelu sesaat setelah mataku bertemu pandang dengan anak baru itu.

“Mengagumi teman barumu, hm?” tanya Mom Jessie membuat beberapa anak di kelasku menahan tawa geli. Astaga! Mereka pasti sekarang menganggapku benar-benar bodoh hanya dengan ketampanan wajah anak baru itu.

“Shit!” desisku seketika dan tertunduk perlahan menahan malu, aku memejamkan mataku sesaat dan sedetik kemudian menatap perlahan Mom Jessie. Astaga! Demi apapun, seperti singa yang akan melahap mangsanya.

“Kau tahu aku akan masuk kelas, Ms. Wilson?”

Yes, Mom.

“Dan kau tahu bahwa aku akan mengumumkan anak baru yang datang ke sekolah kita, hum?” Mom Jessie bertanya seolah mengintimidasiku. Yah... kuakui aku selalu mengabaikannya jika Mom Jessie hanya membawa pengumuman untuk hal-hal yang diluar pelajaran.

Yes, Mom. Aku sangat tahu itu.” Kataku berusaha tetap tenang ketika aku menjawab semua pertanyaannya.

Well... Jane, aku tahu kau tidak pernah tertarik dengan hal-hal semacam ini. Tetapi kau perlu bersosialisasi dan jangan hanya berkecimpung dengan teman dekat atau sahabat-sahabatmu, biar bagaimanapun ‘dia’ akan menjadi bagian dari kelas ini...” ujar Mom Jessie menunjuk sekilas ke arah anak baru itu.
“... Dan kau harus membiasakan diri karena posisimu adalah sebagai sekertaris kelas yang bertugas dalam hal pendataan nama-nama setiap murid disini.” Kata Mom Jessie melanjutkan dan aku hanya mengangguk malas; seolah memahami apa yang dikatakannya barusan.

Well... aku sudah sering memperhatikanmu begini, Ms. Wilson. Tapi dengan berat hati kali ini aku harus tegas...” katanya membuatku menatapnya dengan dahi mengernyit. Apa maksudnya?


“Ms. Wilson...” gumamnya sambil tersenyum tajam dan sarat arti. Jika Mom Jessie sudah tersenyum seperti itu, berarti ada sesuatu yang...

... get out from my class. (keluar dari kelasku).” Ujarnya bagaikan petir di siang bolong. Dan aku hanya memasang tampang bodoh.

Y-yes?” kataku seolah meminta penjelasan lebih dari kata-katanya yang sudah sangat jelas bahwa dia akan menghukumku dengan menyuruhku keluar dari kelasnya.

“Keluar sekarang dan berdiri di lapangan, understand?”
Oh, damn! Dia bahkan menyuruhku berdiri di lapangan. Sial.

Tanpa aba-aba aku segera bangkit dan sedikit menoleh pada anak baru tadi yang juga tengah melihat ke arahku—dan tatapannya belum juga berubah sejak tadi. Apa dia tidak suka ketika aku tidak menghiraukannya tadi?


***


“Apa kali ini kau akan kapok?” tanya Alice sambil menyodorkan sebotol minuman segar padaku. Sekarang kami berada di kantin, aku, Alice, Fany dan Vic. Aku menyambar minuman itu dan langsung menenggaknya sampai habis. Berada dua jam di tengah lapangan benar-benar membuatku seperti baru saja menyelesaikan lomba marathon. Yang benar saja, ini musim panas.

“Seharusnya kau mendengarkan ucapan kami, Jane.” Ujar Stephanie dan Victoria mengangguk setuju.

“Betul, Jane. Sekarang kau sudah rasakan akibatnya.”

“Hei... aku hanya tidak memperhatikan Mom Jessie yang memperkenalkan anak baru itu, bukan tidak mengikuti kelasnya. Kalian berbicara seolah aku baru saja membobol kas negara yang patut untuk dihukum.” Ujarku sedikit emosi.

“Well... aku memaklumi jika Mom Jessie bersikap tegas padamu di hadapan Elliot.” Ujar Alice membuatku bingung.

“Apa maksudmu? Dan... siapa Elliot?”

“Astaga! Ternyata kau benar-benar menutup telingamu ketika di kelas tadi, Jane?” tanya Fany dengan tampang tidak percaya dan setelahnya mendengus kasar.

“Elliot Johnson. Nama anak baru yang masuk ke kelas kita tadi.” Victoria menjelaskan.

“Mom Jessie pantas bersikap tadi, mungkin karena dia ingin menunjukan ketegasannya di hadapan kita semua agar Elliot tidak salah paham dan mengadukan Mom Jessie yang tidak bisa tegas kepada Ayahnya.” Kata-kata Alice membuatku bingung dan kesal. Apa maksudnya?

“Hei... bisakah kalian to the piont?” tanyaku sedikit menaikan nada suaraku setengah oktaf. Kulihat Stephanie menghela nafas dan sedetik kemudian dia menatapku serius.

Well... Elliot adalah putra dari Mr. Johnson, kepala sekolah kita.”

WHAT??!!!!!” aku terperangah mendengar hal yang baru saja Fany ucapkan.



-oo00oo-


Lagi-lagi kututup buku yang sedang kubaca. Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang diucapkan Stephnie kemarin. Astaga! Yang benar saja, jadi anak baru itu putra dari Mr. Johnson.
Hah! Jelas mereka memiliki nama belakang yang sama. Sial. Kau baru saja mencari masalah dengannya, Jane. Anak itu pasti akan membuat perhitungan padaku karena sikapku kemarin.

Oh, God!!” tanpa sadar aku menelungkupkan wajahku di atas meja. Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Hey... ini masih pagi, jangan tidur di kelas.” Kudengar seseorang menjitak kepalaku yang langsung membuatku refleks mengangkat kepalaku.

“Fany... eiishhh. What the hell? Aku tidak berniat untuk tidur.” Sergahku meluruskan.

“Lalu apa yang sedang kau lakukan tadi?” sambung Alice yang kini sudah duduk di sebelahku.

Guys... apa menurut kalian aku akan mendapat panggilan dari kepala sekolah?” tanyaku lesu. Ketiga sahabatku hanya mengendikkan bahu mereka berbarengan.

“Semua tergantung anak itu, kalau dia tidak mengadukan ulahmu kemarin pada Ayahnya, kurasa kau aman-aman saja.” Ujar Victoria membuatku sedikit lega.

“Tapi dari yang kudengar, Elliot adalah orang yang tidak mudah memaafkan orang lain yang telah membuat masalah padanya. Dan dia tidak akan begitu saja melepaskan orang itu dengan mudah sebelum dia membuat perhitungan padanya.” Tambah Stephanie yang sontak membuatku membulatkan mata terperangah.
Astaga! Sebegitu parahnyakah kesalahanku padanya?

“Menurutku dia sangat menakutkan. Kau tidak lihat bagaimana cara dia menatap seseorang dan—“

“Siapa yang menakutkan?”

Seketika Stephanie menghentikan ucapannya saat sebuah suara menginterupsi kami menjadi hening. Perlahan kami menoleh ke arah sumebr suara dan mendapati... anak—ah maksudku Elliot—sedang berdiri beberapa langkah di depan kami berempat.
Astaga! Apa lelaki itu tidak bisa memasang ekspresi yang lebih bagus dikit dari pada tatapan dinginnya itu? Ck... dasar menusia batu.

“Apa setiap hari kalian hanya bisa membiacarakan orang di pagi hari?” ujarnya mengintimidasi kami, membuatku sedikit kesal.
Apa-apaan pria ini? Seenaknya saja menilai aku dan teman-temanku seperti itu. Seperti sudah mengenal kami saja.

“Ah, E-el... good morning.” Ujar Stephanie berusaha mengalihkan pembicaraan sambil tertawa kaku.

“Aku bukan pengadu, jika kalian ingin tahu.” Ujarnya membuat kami terdiam seketika.
Astaga! Sejak kapan lelaki ini menguping pembicaraan kami? Oh, My...
Elliot berjalan menuju kursinya dan membuka buku sambil memasang handsfree di kedua telinganya.
Sial!! Mengapa aku jadi memperhatikannya seperti ini?

Aku mengerjapkan mataku berusaha mentralisir deguban jantungku yang entah mengapa kali ini berdetak tidak seperti biasanya.

“Hey... kau melamun?” tanya Alice menyadarkanku sedangkan Stephanie seperti orang kebakaran jenggot karena baru menyadari bahwa Elliot mendengar ucapannya tadi.

Oh My God... apa aku juga akan dihukum sepertimu Jane?” tanyanya tercekat.


***


Tiba-tiba buku yang kupegang terjatuh begitu saja saat mataku menangkap sosoknya yang tiba-tiba berada di depanku ketika aku berbaling hendak keluar dari toko buku.
Elliot.
Aku menghembuskan nafas kasar seraya memejamkan mata. Aku membungkuk sebentar untuk mengambil buku yang terjatuh tadi.
Lelaki tengik ini. Apa maksudnya membuatku terkejut, huh? Oh, God. Sial... apa dia ingin membuat perhitungan denganku?

S-sorry. (Permisi.)” Ucapku singkat dan sialnya nada bicaraku malah terdengar gugup. Entahlah, padahal aku sudah berusaha bersikap tenang di depannya. Aku hendak berjalan melewatinya namun dia menghalangiku, kutatap dia dengan alis mata terangkat sebelah.

“Aku sudah mencari di seluruh rak buku yang ada di toko buku ini ini, dan penjaga toko bilang buku itu memang hanya tersisa satu, dan sekarang sedang berada dalam genggamanmu.” Ujarnya membuatku mengernyit dan tidak bisa mencerna dengan cepat apa maksud dari rentetan kata-kata yang baru saja pria ini ucapkan.

I’m sorry? (Maaf?)?” tanyaku berusaha mendapat penjelasan lebih dari ucapannya barusan. Kulihat dia menghela nafas—entah itu kesal atau apalah—dan memalingkan wajahnya sesaat lalu kemudian menatapku kembali.
Astaga! Aku yang baru menyadarinya, atau memang dia memiliki mata yang indah? Kenapa aku baru sadar kalau lelaki ini memiliki mata yang—oh, damn!! Jane, apa yang kau pikirkan?
Sesaat otakku blank dan sulit sekali menjalankan otakku untuk berpikir lebih keras.

“Kurasa kau tak sebodoh itu untuk mengerti apa maksud dari ucapanku tadi. So, i need this book, right? (Jadi , aku membutuhkan buku ini, oke?”

Dan dalam hitungan detik serta hanya dalam sekejap mata, buku yang tengah kupegang tadi sudah berpindah ke tangannya.

“Terimakasih sudah mencarinya untukku.” Kulihat dia pergi menuju kasir lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan membayarnya.

Kata-kata itu seolah membuyarkan lamunanku dan mengembalikan kejernihan otakku yang sebelumnya tidak bisa berfungsi.
What? Wait!!! Bukuku..???

Hey, wait!!!” teriakku seketika saat seluruh kesadaranku pulih bahwa buku yang sedang kubutuhkan sudah tidak lagi dalam genggamanku.


***

Hey, wait!!! Hey...!!!” aku terus berteriak memanggil Elliot ketika lelaki itu terus berjalan tanpa mengindahkan panggilanku.
Kuraih bahu belakangnya dan membalikan tubuhnya sedikit kasar, membuat kami kini saling berhadapan di depan koridor pertokoan.

This is mine. (Ini milikku)” Ucapku ketus dan mencoba merebut buku yang tengah berada dalam genggaman tangan kanannya, namun secepat kilat Elliot mengangkat tangannya ke atas membuatku gagal merebut buku itu.
Aku mengernyitkan dahi dan memasang tampang semarah mungkin—dan aku memang sedang marah. Apa-apaan lelaki ini, mengambil buku yang sudah susah payah kucari setangah mati. Jika aku gagal memiliki buku ini, habislah aku oleh Mom Jessie.

“Hey, ini adalah buku milik umum. Jangan salahkan aku mengapa kau tidak bisa mempertahankannya. Aku sudah memintanya baik-baik denganmu tadi dan kau hanya diam saat kuambil buku ini dari tanganmu, dan kuanggap ‘diam’mu itu adalah kata lain dari setuju. So, that’s not my fault, isn’t it? (Jadi, ini bukan kesalahanku, kan?” ucapnya datar hampir tanpa ekspresi.

Hell...!! Apa maksud pria ini? Dasar bajingan tengik! Bisa-bisanya mengelabuiku.

“Aku bahkan tidak menyadari saat kau mengambilnya dariku dan aku sama sekali tidak mengijinkanmu mengambilnya. Aku yang menemukan buku ini dan aku juga sedang membutuhkannya. Kau tidak bisa seenaknya mengambil buku itu dariku.” Ucapku hampir tanpa jeda dan berakhir dengan nafas terengah-engah dan mataku menatapnya tajam.

“Baiklah, Nona. Kau dan aku sama-sama membutuhkan buku ini, kalau begitu kita belajar bersama saja.”
Ucapannya membuatku membelalakan mata—bukan hanya karena ucapannya—sedetik setelah dia mengucapkan hal itu, tangannya meraih tanganku dan menyeretku berjalan bersamanya.
Astaga! Apa-apaan lelaki ini?

Hey... what the hell is it? (Hei, apa-apaan ini?” aku berusaha meronta melepaskan genggaman tangannya yang terus menyeretku menelusuri koridor pertokoan.

Hey... get off me!!! (Lepaskan aku!!!)” akhirnya aku bisa melepas paksa cengkraman tangannya yang menarikku; kulihat sedikit bekas kemerahan dipergelangan tanganku. Aku tahu genggamannya berubah menjadi cengkeraman ketika aku berusaha keras melepaskan diri. Tapi apa maksud lelaki ini dengan mengajakku belajar bersama? Kami bahkan tidak saling kenal dan kami baru bertemu kemarin.
Aku menatapnya berang sembari memegangi tanganku yang kemerahan.

You sick!! (Dasar gila!!)”
Aku meninggalkannya dengan wajah memerah menahan amarah, dan ku akui ucapan terakhirku sedikit kencang hingga beberapa orang yang sedang berada didekat kami menatap aneh ke arahku dan Elliot.
Gila!!! Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak. Sial..!!!

-oo00oo-


Dia berjalan cepat dan meninggalkanku dengan kata-kata terakhirnya yang mengatakan bahwa aku ‘gila’.
Tsk! Gadis itu, dia bahkan satu-satunya gadis yang pertama kalinya bersikap dingin terhadapku. Selama ini, tidak ada gadis yang tidak merespon baik padaku. Semuanya bahkan berharap bisa mendekatiku dan bahkan menjadi kekasihku. Tapi tidak dengannya. Entahlah, gadis itu memang aneh. Tapi justru aku lebih tertarik padanya dibandingkan dengan gadis-gadis kebanyakan.
Wajahnya oriental, terlihat sekali bahwa dia memiliki campuran darah biru yang mengalir di dalam darahnya. Gadis itu cantik, memiliki postur tubuh yang mungil dan wajah yang terlampau seperti anak-anak. Dia bahkan tidak seperti anak berusia 16 tahun. Astaga, aku pasti sudah gila. Semenjak hari itu, hari dimana pertama kali aku melihatnya, semuanya terasa berbeda. Tidak ada yang lebih menarik perhatianku selain memperhatikan wajahnya dari kejauhan.
Jane...
Nama itu telah tertanam kuat di dalam otakku. Namun aku tidak yakin aku bisa berhasil membuatnya sedikit saja mengalihkan perhatiannya padaku.

Jane... suatu saat kau pasti menjadi miliku.